Pertemuan XI Semester I - Kelas Maya Bahasa Indonesia
Assalamu'alaikum Wr. Wb.Gaya Bahasa Hikayat
Hikayat sebagai salah satu karya sastra
prosa yang berbicara tentang nilai-nilai kehidupan dan keindahan, menggunakan
bahasa sebagai sarana pengungkapannya. Adapun bahasa dalam hikayat adalah
bahasa yang khas dan terpilih. Hal ini dilakukan supaya hikayat yang biasanya
disampaikan kepada penikmat secara lisan atau dibacakan oleh imitator (pembaca
hikayat) terdengar indah dan menarik untuk dinikmati oleh penikmat sastra
tersebut.
Ciri khas bahasa dalam hikayat juga
dipengaruhi oleh pilihan kata-kata (diksi) yang tepat dan serasi. Kekhasan itu
juga dihasilkan dari gaya-gaya penulisan yang indah yang dapat menciptakan
sentuhan indera rasa, akal budi, dan angan-angan penikmat. Gaya-gaya penulisan
itu disebut gaya penulis dalam menggunakan bahasa atau lazim disebut gaya bahasa.
Berikut adalah gaya bahasa yang kerap
digunakan dalam sebuah hikayat.
- Pengulangan
kata
Dalam hikayat banyak dilakukan pengulangan
kata yang bertujuan untuk menghasilkan efek artistik, Perkataan-perkataan yang
seringkali digunakan secara berulang-ulang di dalam Hikayat Hang Tuah misalnya:
alkisah, hatta, maka, sebermula, arakian, syahdan, dan sekalian.
- Penggunaan kata pangkal kalimat
Kata pangkal kalimat ialah perkataan yang
hadir di awal kalimat sebagai penghubung antarkalimat. Contoh kata pangkal kalimat yaitu :
- Maka
- Arakian
- Bermula
- Alkisah
- Syahdan
- Kalakian
- Hatta
- Adapun
- Maka
permaisuri pun bersiramlah di perigi itu.
- Hatta datanglah seorang ahli menghadap tuan puteri.
- Adapun padang itu tersangatlah luas, saujana mata memandang.
- Penggunaan
kalimat yang panjang, berulang-ulang dan berbelit-belit
Di dalam sebuah hikayat terdapat banyak
penggunaan kalimat yang tidak hanya panjang, tetapi juga berulang-ulang (klise)
dan berbelit-belit.
Contohnya:
Apabila
tuan puteri dan segala isi istana itu mendengar bunyi-bunyian dan melihat
segala perintah dewa-dewa turun terlalu banyak
datang dengan pakaiannya terlalu indah-indah rata terbang itu pun dengan
perhiasannya keemasan datang mendapatkan Sang Perta Dewa itu bertatahkan ratna
mutu manikam. maka Tuan Puteri Pelinggam pun tahulah akan Sang Perta Dewa itu
anaknya besar turun dari keinderaan.
- Penggunaan
majas hiperbola
majas hiperbola dalam hikayat Hang Tuah:
Segala
perintah dewa-dewa turun
terlalu banyak datang dengan pakaian terlalu indah-indah rata terbang itu pun dengan perhiasannya keemasan.
- Penggunaan
kalimat/ayat songsang
Hikayat, terutama yang Melayu, banyak
menggunakan kalimat pasif atau ayat songsang dalam khazanah bahasa Melayu.
Ayat songsang adalah kalimat yang sebagian atau keseluruhan predikat berada di
hadapan binaan subjek. Kalimat songsang berbeda dengan kalimat pasif dalam khazanah
bahasa Indonesia, karena kalimat songsang tidak merubah kata kerja, hanya merubah letak
subjek.
Perhatikan contoh berikut ini!
- Ibu saya/dia. (susunan ayat/kalimat biasa, ibu saya sebagai subjek terletak di depan)
- Dialah/ibu saya. (susunan ayat/kalimat songsang, ibu saya sebagai subjek terletak di belakang)
Contoh kalimat songsang dalam hikayat Hang
Tuah adalah sebagai berikut:
Setelah sudah bermuat maka nahkoda itu pun
turunlah keperahunya lalu berlayar ke Palembang.
- Penggunaan
gaya bahasa kiasan
Penggunaan gaya bahasa kiasan ditujukan
untuk memberikan gambaran sesuatu peristiwa dengan jelas dan menarik.
Peristiwa-peristiwa yang melibatkan penggunaan bahasa kiasan ini contohnya:
- Ular
cintamani yang ditangkap oleh Hang Tuah di Pulau Biram Dewa telah
digambarkan sebagai:
... rupanya
dan besarnya seperti pisang emas dan warnanya seperti emas sepuluh mutu.
- Pelanduk
Putih yang menerjang anjing Raja Melaka ke dalam sungai itu digambarkan
sebagai:
... seekor
pelanduk putih, seperti kambing besarnya.
- Penggunaan
gaya bahasa pertentangan
Gaya bahasa pertentangan sebenarnya
bertujuan untuk mencela, mengkritik dan meyakiti hati seseorang. Contohnya
dalam Hikayat Hang Tuah adalah:
”Cis?
Si Tuah itu hendak menunjukkan laki-lakinya kepadaku? Tetapi Si Tuah itu bukan
padanku; padanku Raja Melaka juga. Adapun pertikamanku yang empat ribu ini
kuamuk di dalam negeri Melaka itu sejam lamanya; syahadan gajahku yang bernama
Syah Kertas yang gila makan minyak ini kurandungkan
pada balairung raja Melaka yang tujuh belas ruang itu. Jikalau tiada kuperbuat
demikian seperti cakap ini. bukanlah anak raja Terengganu”.
Mengenal Kata Arkais/Kuno
Hikayat juga banyak menggunakan kata arkais
atau kuno. Kata arkais sudah jarang kita temukan saat ini. Kata Arkais
merupakan kata-kata yang berhubungan zaman dahulu atau kata-kata yang sudah tak
lazim atau bisa juga dikatakan kata kuno. Menurut Wikipedia, arkhais atau arkais,
dari bahasa Yunani, artinya adalah: “dari sebuah masa yang lebih awal dan tidak
dipakai lagi atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuna atau antik. ” Sesuatu hal
dalam ilmu bahasa yang sudah lama dan tidak digunakan lagi seringkali disebut
sebagai ”arkaisme.”
Contoh kata-kata arkais yang sering
digunakan dalam hikayat adalah hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut empunya
cerita,
konon, dan tersebutlah perkataan.
Selain hikayat, karya sastra yang masih
menggunakan kata-kata arkais adalah pantun. Pada perkembangannya dewasa ini,
kata-kata arkais juga digunakan dalam cerpen. Beberapa pengarang cerpen
kontemporer seperti Benny Amas dan Guntur Alam, sering menggunakan kata-kata
arkais dalam karya mereka. Penggunaan kata-kata arkais ini, terutama dalam karya
sastra, setidaknya menghidupkan dan mengenalkan kembali kekayaan kosakata
bahasa Indonesia.
Sebagai contoh, dalam kalimat ”Lelaki yang
kepalanya dipenuhi api itu ingin sekali mengasam pemuda yang merengap tak
keruan di depan hidungnya.” Terdapat kata arkais, yaitu "mengasam” dan
"merengap". Kata ”mengasam" dan ”merengap" merupakan kata
yang jarang sekali digunakan, baik.dalam karya sastra kontemporer mau pun ragam
bahasa resmi. Kata ”mengasam" berasal dari bentuk dasar ”kasam" yang
berarti membalas dendam, sedangkan ”merengap” memiliki arti mengap-mengap;
mengah-mengah (lelah dan sebagainya).
Cermati pula penggunaan kata-kata arkais
dalam cuplikan cerpen berikut.
”Malam
yang tak biasa. Aku menghidu aroma yang tak biasa. Aroma yang membuat diriku
dicekam rasa takut yang tak biasa. Giris. Di kejauhan suara burung malam
bergaok-gaok, bersahut-sahutan. Sungguh tak biasa. Bungkus sudah nyaliku. Ciut."
Mengenal Konjungsi
Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang
menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan
frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.
Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas
yang memiliki anggota yang dapat beririsan. Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.
Kata penghubung adalah kata-kata yang
digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa atau
kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan,
karena, dan ketika. Dilihat dari
fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung:
1. Kata penghubung yang kedudukannya sederajat
atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:
- Menggabungkan
biasa: dan, dengan, serta
- Menggabungkan
memilih: atau
- Menggabungkan
mempertentangkan: tetapi, namun,
sedangkan, sebaliknya
- Menggabungkan
membetulkan: melainkan, hanya
- Menggabungkan
menegaskan: bahkan, malah (malahan),
lagipula, apalagi, jangankan
- Menggabungkan
membatasi: kecuali, hanya
- Menggabungkan
mengurutkan: lalu, kemudian,
selanjutnya
- Menggabungkan
menyamakan: yaitu, yakni, bahwa,
adalah, ialah
- Menggabungkan
menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh
sebab itu
- Menyatakan sebab: sebab dan karena
- Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal
- Menyatakan tujuan: agar dan supaya
- Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
- Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga
- Menyatakan sasaran: untuk dan guna
- Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana
- Menyatakan tempat

Komentar
Kelas.XSC
Absen.19
KLS:X OC
ABSEN:30
Kelas:XSB
Nomor:29
Kelas:X OC
NOABS:24
Kelas:X OC
Nomer:19
Kelas: XOB
Nomer:18S
Kelas :X Ob
Absen :17
Kls:x oa
absen:19
KLS:XSA
NO:16
Kelas: X OC
No :9
KELAS:X OA
NO:12
KELAS:X OC
NO:22
KELAS:XSC
NO:23
Kelas:XSA
NO:26