Langsung ke konten utama

HIKAYAT 2 - Kebahasaan Teks Hikayat

Pertemuan XI Semester I - Kelas Maya Bahasa Indonesia

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Kali ini kita akan belajar materi kebahasaan hikayat, mengenal kata arkais, mengenal konjungsi, dan mengenal beberapa contoh teks hikayat. Selamat belajar!

Gaya Bahasa Hikayat

Hikayat sebagai salah satu karya sastra prosa yang berbicara tentang nilai-nilai kehidupan dan keindahan, menggunakan bahasa sebagai sarana pengungkapannya. Adapun bahasa dalam hikayat adalah bahasa yang khas dan terpilih. Hal ini dilakukan supaya hikayat yang biasanya disampaikan kepada penikmat secara lisan atau dibacakan oleh imitator (pembaca hikayat) terdengar indah dan menarik untuk dinikmati oleh penikmat sastra tersebut.

Ciri khas bahasa dalam hikayat juga dipengaruhi oleh pilihan kata-kata (diksi) yang tepat dan serasi. Kekhasan itu juga dihasilkan dari gaya-gaya penulisan yang indah yang dapat menciptakan sentuhan indera rasa, akal budi, dan angan-angan penikmat. Gaya-gaya penulisan itu disebut gaya penulis dalam menggunakan bahasa atau lazim disebut gaya bahasa.

Berikut adalah gaya bahasa yang kerap digunakan dalam sebuah hikayat.

  • Pengulangan kata

Dalam hikayat banyak dilakukan pengulangan kata yang bertujuan untuk menghasilkan efek artistik, Perkataan-perkataan yang seringkali digunakan secara berulang-ulang di dalam Hikayat Hang Tuah misalnya: alkisah, hatta, maka, sebermula, arakian, syahdan, dan sekalian.


  • Penggunaan kata pangkal kalimat

Kata pangkal kalimat ialah perkataan yang hadir di awal kalimat sebagai penghubung antarkalimat. Contoh kata pangkal kalimat yaitu :

  1. Maka
  2. Arakian
  3. Bermula
  4. Alkisah
  5. Syahdan
  6. Kalakian
  7. Hatta
  8. Adapun

 Contoh dalam kalimat:

  1. Maka permaisuri pun bersiramlah di perigi itu.
  2. Hatta datanglah seorang ahli menghadap tuan puteri.
  3. Adapun padang itu tersangatlah luas, saujana mata memandang.

  • Penggunaan kalimat yang panjang, berulang-ulang dan berbelit-belit

Di dalam sebuah hikayat terdapat banyak penggunaan kalimat yang tidak hanya panjang, tetapi juga berulang-ulang (klise) dan berbelit-belit.

Contohnya:

Apabila tuan puteri dan segala isi istana itu mendengar bunyi-bunyian dan melihat segala perintah dewa-dewa turun terlalu banyak datang dengan pakaiannya terlalu indah-indah rata terbang itu pun dengan perhiasannya keemasan datang mendapatkan Sang Perta Dewa itu bertatahkan ratna mutu manikam. maka Tuan Puteri Pelinggam pun tahulah akan Sang Perta Dewa itu anaknya besar turun dari keinderaan.


  • Penggunaan majas hiperbola

majas hiperbola dalam hikayat Hang Tuah:

Segala perintah dewa-dewa turun terlalu banyak datang dengan pakaian terlalu indah-indah rata terbang itu pun dengan perhiasannya keemasan.


  • Penggunaan kalimat/ayat songsang

Hikayat, terutama yang Melayu, banyak menggunakan kalimat pasif atau ayat songsang dalam khazanah bahasa Melayu. Ayat songsang adalah kalimat yang sebagian atau keseluruhan predikat berada di hadapan binaan subjek. Kalimat songsang berbeda dengan kalimat pasif dalam khazanah bahasa Indonesia, karena kalimat songsang tidak merubah kata kerja, hanya merubah letak subjek.

Perhatikan contoh berikut ini!

  1. Ibu saya/dia. (susunan ayat/kalimat biasa, ibu saya sebagai subjek terletak di depan)
  2. Dialah/ibu saya. (susunan ayat/kalimat songsang, ibu saya sebagai subjek terletak di belakang)

Contoh kalimat songsang dalam hikayat Hang Tuah adalah sebagai berikut:

Setelah sudah bermuat maka nahkoda itu pun turunlah keperahunya lalu berlayar ke Palembang.


  • Penggunaan gaya bahasa kiasan

Penggunaan gaya bahasa kiasan ditujukan untuk memberikan gambaran sesuatu peristiwa dengan jelas dan menarik. Peristiwa-peristiwa yang melibatkan penggunaan bahasa kiasan ini contohnya:

  1. Ular cintamani yang ditangkap oleh Hang Tuah di Pulau Biram Dewa telah digambarkan sebagai:

... rupanya dan besarnya seperti pisang emas dan warnanya seperti emas sepuluh mutu.

  1. Pelanduk Putih yang menerjang anjing Raja Melaka ke dalam sungai itu digambarkan sebagai:

... seekor pelanduk putih, seperti kambing besarnya.


  • Penggunaan gaya bahasa pertentangan

Gaya bahasa pertentangan sebenarnya bertujuan untuk mencela, mengkritik dan meyakiti hati seseorang. Contohnya dalam Hikayat Hang Tuah adalah:

”Cis? Si Tuah itu hendak menunjukkan laki-lakinya kepadaku? Tetapi Si Tuah itu bukan padanku; padanku Raja Melaka juga. Adapun pertikamanku yang empat ribu ini kuamuk di dalam negeri Melaka itu sejam lamanya; syahadan gajahku yang bernama Syah Kertas yang gila makan minyak ini kurandungkan pada balairung raja Melaka yang tujuh belas ruang itu. Jikalau tiada kuperbuat demikian seperti cakap ini. bukanlah anak raja Terengganu”.


Mengenal Kata Arkais/Kuno

Hikayat juga banyak menggunakan kata arkais atau kuno. Kata arkais sudah jarang kita temukan saat ini. Kata Arkais merupakan kata-kata yang berhubungan zaman dahulu atau kata-kata yang sudah tak lazim atau bisa juga dikatakan kata kuno. Menurut Wikipedia, arkhais atau arkais, dari bahasa Yunani, artinya adalah: “dari sebuah masa yang lebih awal dan tidak dipakai lagi atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuna atau antik. ” Sesuatu hal dalam ilmu bahasa yang sudah lama dan tidak digunakan lagi seringkali disebut sebagai  ”arkaisme.”

Contoh kata-kata arkais yang sering digunakan dalam hikayat adalah hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut empunya cerita, konon, dan tersebutlah perkataan.

Selain hikayat, karya sastra yang masih menggunakan kata-kata arkais adalah pantun. Pada perkembangannya dewasa ini, kata-kata arkais juga digunakan dalam cerpen. Beberapa pengarang cerpen kontemporer seperti Benny Amas dan Guntur Alam, sering menggunakan kata-kata arkais dalam karya mereka. Penggunaan kata-kata arkais ini, terutama dalam karya sastra, setidaknya menghidupkan dan mengenalkan kembali kekayaan kosakata bahasa Indonesia.

Sebagai contoh, dalam kalimat ”Lelaki yang kepalanya dipenuhi api itu ingin sekali mengasam pemuda yang merengap tak keruan di depan hidungnya.” Terdapat kata arkais, yaitu "mengasam” dan "merengap". Kata ”mengasam" dan ”merengap" merupakan kata yang jarang sekali digunakan, baik.dalam karya sastra kontemporer mau pun ragam bahasa resmi. Kata ”mengasam" berasal dari bentuk dasar ”kasam" yang berarti membalas dendam, sedangkan ”merengap” memiliki arti mengap-mengap; mengah-mengah (lelah dan sebagainya).

Cermati pula penggunaan kata-kata arkais dalam cuplikan cerpen berikut.

”Malam yang tak biasa. Aku menghidu aroma yang tak biasa. Aroma yang membuat diriku dicekam rasa takut yang tak biasa. Giris. Di kejauhan suara burung malam bergaok-gaok, bersahut-sahutan. Sungguh tak biasa. Bungkus sudah nyaliku. Ciut."


Mengenal Konjungsi

Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.

Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat beririsan. Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.

Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan, karena, dan ketika. Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung:

1. Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:

  • Menggabungkan biasa: dan, dengan, serta
  • Menggabungkan memilih: atau
  • Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya
  • Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya
  • Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, jangankan
  • Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya
  • Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya
  • Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah
  • Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh sebab itu
2. Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut: 
  • Menyatakan sebab: sebab dan karena 
  • Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal 
  • Menyatakan tujuan: agar dan supaya
  • Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala. 
  • Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga 
  • Menyatakan sasaran: untuk dan guna 
  • Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana 
  • Menyatakan tempat


Contoh-contoh teks hikayat silakan buka link ini

Komentar

Unknown mengatakan…
Nama.muhammad Iqbal maarif
Kelas.XSC
Absen.19
Unknown mengatakan…
Nama:Tegar meilano
KLS:X OC
ABSEN:30
Unknown mengatakan…
Nama : Rauf nur safaat
Kelas:XSB
Nomor:29
Unknown mengatakan…
Nama:Prima Bagus Santoso
Kelas:X OC
NOABS:24
Unknown mengatakan…
Nama:Muhammad Wildan Apriansyah
Kelas:X OC
Nomer:19
Unknown mengatakan…
Nama: Leo rakael Panji Tri Saputro
Kelas: XOB
Nomer:18S
Unknown mengatakan…
Nama:kio dwi priatmaja
Kelas :X Ob
Absen :17
Unknown mengatakan…
Nama: Ikhwan Adit yatama
Kls:x oa
absen:19
Unknown mengatakan…
NAMA:EVAN MURDIYANTORO
KLS:XSA
NO:16
Unknown mengatakan…
Nama : Bintang Faturrohman
Kelas: X OC
No :9
Unknown mengatakan…
NAMA:DIKI RISTIAWAN
KELAS:X OA
NO:12
Unknown mengatakan…
NAMA:PANGESTU REZA
KELAS:X OC
NO:22
Unknown mengatakan…
NAMA:FEBRI ADRIAWAN SAPUTRA
KELAS:XSC
NO:23
Unknown mengatakan…
Nama: Muhammad Nafid
Kelas:XSA
NO:26