Pertemuan VII Semester II - Kelas Maya Bahasa Indonesia:
KELAS X
Menyusun Argumentasi dan Sanggahan
Argumentasi
Sebelum mempertahankan pendapat tentang suatu isu atau permasalahan, hal pertama yang harus dimiliki seseorang adalah memahami isu atau permasalahan dengan baik. Untuk itu, pihak-pihak yang akan melakukan debat harus banyak mencari informasi dari berbagai sumber Misalnya, dengan membaca berita, menyimak berita dari radio dan televisi, atau menggali informasi dari narasumber yang memahami isu atau permasalahan dengan baik. Argumentasi yang disampaikan akan menjelaskan mengapa suatu sudut pandang tertentu seharusnya diterima. Argumen yang baik bersifat logis dan relevan terhadap poin yang ingin dibuktikan. Argumen yang baik terdiri atas:
- Pernyataan; berupa gagasan yang ingin dibuktikan;
- Alasan; berupa alasan dan penalaran yang menyatakan bahwa pernyataan tersebut adalah suatu hal yang logis;
- Bukti; berupa contoh-contoh, fakta, atau data yang mendukung pernyataan dan alasan yang disampaikan;
- Kesimpulan; yaitu penjelasan mengenai relevansi antara argumen dan mosi yang tengah diperdebatkan.
Sebaiknya setiap tim memiliki dua sampai empat argumen untuk mendukung posisi mereka. Argumen-argumen tersebut sebaiknya dibagi antara pembicara pertama dan kedua. Dengan demikian, beberapa argumen dijelaskan oleh pembicara pertama, dan sisanya dijelaskan oleh pembicara kedua. Sedangkan, pembicara ketiga memperkuat penjelasan dari pembicara pertama dan kedua dengan menyampaikan kesimpulan argumen tim serta menambahkan alasan dan data yang relevan.
Berikut adalah contoh argumen terhadap sebuah mosi:
Mosi: Kuota bukan merupakan jawaban untuk kaum perempuan.
Definisi Mosi: ”Memberikan kuota jumlah kursi minimum sebanyak 30% untuk perempuan dalam DPR bukan merupakan solusi yang tepat untuk pencapaian kesetaraan gender di masyarakat”.
Argumen:
- Pernyataan: karena memberikan bantuan seperti ini hanya akan memperkuat persepsi dalam masyarakat bahwa perempuan tidak mampu berjuang sendiri.
- Alasan: Kini terdapat persepsi yang kuat dalam masyarakat bahwa perempuan merupakan pihak yang lebih lemah dibandingkan laki-laki. Banyak yang menyatakan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Pemberian kuota khusus untuk perempuan di parlemen hanya akan memperkuat persepsi bahwa perempuan hanya dapat sampai diparlemen apabila mereka diberikan bantuan terlebih dahulu, bukan karena mereka memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dan dapat memenangkan persaingan untuk menjadi wakil rakyat. Dengan demikian, mosi ini menguatkan persepsi yang salah, yaitu bahwa perempuan tidak mampu sampai pada tingkat yang setara dengan laki-laki kecuali diberikan bantuan khusus.
- Bukti: Di Uganda, opini publik yang tidak mendukung pemberdayaan perempuan meningkat pesat setelah diimplementasikannya kuota parlemen seperti dalam mosi ini.
- Kesimpulan: Kuota untuk perempuan dalam parlemen hanya akan memperkuat persepsi negatif yang mendegradasi perempuan, menjauhkan kita dari kemajuan sosialisasi tentang kesetaraan gender.
Apabila tim memiliki lebih dari satu argumen, harus dipastikan bahwa setiap argumen yang disampaikan bersifat konsisten dan tidak saling kontradiksi/bertentangan.
Sanggahan
Sanggahan merupakan respon terhadap argumen tim lawan yang terelaborasi secara jelas. Sanggahan disampaikan dalam debat guna membuktikan bahwa argumen tim lawan tidak sepenting yang mereka kemukakan. Sama halnya dengan argumen, sanggahan yang baik harus memuat alasan, bukti, dan kesimpulan. Dalam merespon argumen tim lawan, sanggahan dapat menunjukkan bahwa argumen tersebut:
1. Tidak relevan terhadap poin yang ingin dibuktikan
Contohnya:
Argumen: "Prostitusi seharusnya dilarang karena menciptakan lebih banyak situs porno di internet".
Sanggahan: ”Jumlah situs porno di internet tidak memiliki hubungan sama sekali dengan dilegalkannya prostitusi. Kenyataannya adalah situs porno dapat diakses di banyak negara, terlepas dari negara tersebut melegalisasikan prostitusi atau tidak.”
2. Tidak logis
Contohnya:
Argumen: ”Siswa seharusnya diperbolehkan untuk merokok di sekolah karena hal tersebut akan menciptakan perlawanan yang lebih kuat dari perokok pasif sehingga akhirnya jumlah perokok di sekolah menurun.
Sanggahan: ”Argumen ini tidak logis, karena memperbolehkan siswa untuk merokok hanya akan menciptakan kondisi permisif yang akan mendorong lebih banyak siswa untuk merokok. Kenyataannya adalah sebagian besar siswa merokok justru karena tekanan dari teman sebaya. Apabila sekolah juga mendukung tekanan lingkungan pertemanan ini, maka fakta bahwa merokok adalah hal yang buruk akan bersifat kabur dan semakin banyak siswa akan berpikiran bahwa merokok itu baik, dan mereka juga ikut merokok.”
3. Salah secara moral
Contohnya:
Argumen: ”Pemerintah seharusnya mendukung hukuman mati karena hal tersebut akan menurunkan jumlah populasi di negara kita”.
Sanggahan: ”Membunuh orang hanya demi menurunkan angka populasi merupakan suatu tindakan yang tidak bermoral. Individu memiliki hak untuk hidup dan pemerintah seharusnya tidak mengambil hak itu hanya karena mereka sedang kesusahan dalam mengatur jumlah populasi dalam negeri."
4. Benar, namun tidak penting atau memiliki dampak yang tidak dapat diterima
Contohnya:
Argumen: ”Pemerintah seharusnya melarang MTV (Music Television) karena terdapat beberapa program yang tidak berhubungan dengan musik."
Sanggahan: “Memang benar bahwa beberapa program MTV tidak berhubungan dengan musik, namun Pemerintah seharusnya tidak melarang MTV hanya karena mempunyai program di luar musik. Pemerintah akan mengalami kerugian jika mengharuskan stasiun TV menyiarkan program yang sama dengan nama stasiunnya.
5. Didasarkan pada fakta yang salah, ataupun interpretasi yang salah terhadap fakta.
Contohnya:
Argumen: ”Tingkat pembunuhan semakin meningkat di AS. Hal ini dikarenakan beberapa negara telah menghapuskan hukuman mati."
Sanggahan yang mungkin disampaikan:
- ”Tingkat pembunuhan tidak meningkat di AS. Bukti menunjukkan bahwa ........ ".
- ”Apabila angka pembunuhan semakin meningkat, hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya pembunuhan yang dilaporkan dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, secara kenyataan angka pembunuhan sebenarnya tidak meningkat"
- Bukti menunjukkan bahwa hukuman mati (pembunuhan yang dilakukan oleh negara) dapat mengindikasikan dukungan terhadap kejahatan yang berat dan justru mengakibatkan peningkatan kejahatan yang berat dibandingkan menurunkannya.
- Materi Kaidah Kebahasaan
Bahasa Baku dan Tidak Baku
Bahasa baku merupakan ragam bahasa resmi yang biasa digunakan untuk menyampaikan informasi dalam situasi formal atau resmi. Bahasa baku adalah ragam bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berpedoman pada kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pedoman pembentukan istilah, dan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Bahasa resmi biasanya digunakan secara lisan ataupun tulisan dalam beberapa situasi formal seperti rapat dinas, pidato kenegaraan, komunikasi dengan guru atau atasan, komunikasi resmi, wacana teknis, dan sebagainya.
Bahasa yang tidak mengikuti pedoman bahasa baku dan kaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku. Bahasa tak baku merupakan ragam bahasa yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa tidak baku disebut juga bahasa informal. Ragam bahasa tak baku cenderung lebih akrab dibanding dengan bahasa baku.
Ciri Bahasa Baku
Selain digunakan dalam situasi resmi, bahasa baku juga memiliki beberapa ciri khusus. Berikut beberapa ciri khusus bahasa baku dalam bahasa Indonesia:
1. Tidak dipengaruhi oleh bahasa daerah
Dalam percakapan sehari-hari, biasanya kita akan cenderung menggunakan ragam bahasa yang bersesuaian dengan kebiasaan di daerah kita. Bahasa baku tidak dipengaruhi oleh bahasa daerah seperti penambahan akhiran pada suatu kata, istilah atau sebutan tertentu, ataupun perubahan awalan kata.
Baku | Tidak baku |
saya | gue |
ayah | bokap |
bertemu | ketemu |
merasa | ngerasa |
menemukan | nemuin |
2. Tidak dipengaruhi oleh bahasa asing
Ragam bahasa baku tidak dipengaruhi oleh bahasa asing. Jika terdapat pengaruh bahasa asing seperti penambahan kata bantu, pertukaran posisi, perbedaan makna dan sebagainya, maka bahasa tersebut merupakan bahasa tidak baku.
Baku | Tidak baku |
Itu salah | Itu adalah salah |
Kesempatan lain | Lain kesempatan |
Tempat | Di mana |
Hemoglobin | Haemoglobin |
Contoh kalimat:
Baku | Tidak baku |
Zat itu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. | Zat itu meningkatkan haemoglobin dalam darah. |
Pak guru mengatakan bahwa jawaban itu salah. | Pak guru mengatakan bahwa jawaban itu adalah salah. |
Kita akan bertemu pada kesempatan lain. | Kita akan bertemu pada lain kesempatan. |
Saya pergi ke kantor tempat Ibu bekerja. | Saya pergi ke kantor di mana ibu bekerja. |
3. Bukan bahasa percakapan
Ragam bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari umumnya merupakan bahasa yang tidak baku atau bahasa pasaran. Bahasa yang baku bukan merupakan bahasa percakapan dan terdengar lebih formal atau resmi.
Baku | Tidak Baku |
tetapi | tapi |
tidak | gak |
bagaimana | gimana |
memberi | ngasih |
begitu | gitu |
4. Menggunakan imbuhan secara eksplisit
Ragam bahasa baku menggunakan imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) secara gamblang sehingga jelas makna dan artinya. Penggunaan imbuhan secara eksplisit menampilkan makna yang sebenarnya sehingga kalimat tersebut mudah dimengerti.
Baku | Tidak baku |
bernyanyi | nyanyi |
bermain | main |
Contoh kalimat:
Baku | Tidak baku |
Pemuda itu sangat pintar bermain catur. | Pemuda itu sangat pintar main catur. |
5. Penggunaannya sesuai dengan konteks kalimat
Pemakaian ragam bahasa baku sesuai dengan konteks kalimat sehingga dihasilkan kalimat yang lebih sesuai. Jika menggunakan bahasa tidak baku, maka kalimat akan terasa kurang tepat.
Baku | Tidak baku |
daripada | dari |
disebabkan oleh | disebabkan karena |
Contoh kalimat:
Baku | Tidak baku |
Kecelakaan tersebut disebabkan oleh jalan yang licin. | Kecelakaan tersebut disebabkan karena jalan yang licin. |
Rumah paman lebih besar daripada rumah nenek. | Rumah paman lebih besar dari rumah nenek. |
6. Tidak terkontaminasi dan tidak rancu
Poin ini merupakan salah satu ciri bahasa baku yang cenderung sulit dipahami karena kerancuan bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan. Bahasa baku tidak mengandung makna ganda sehingga lebih efektif.
Baku | Tidak baku |
menghemat waktu | mempersingkat waktu |
mengesampingkan | mengenyampingkan |
memeroleh | memperoleh |
berkali-kali | berulang kali |
mengatasi ketertinggalan | mengejar ketinggalan |
7. Tidak mengandung arti pleonasme
Pleonasme merupakan majas yang menggunakan suatu kata atau keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan lagi karena arti kata tersebut sama dengan kata yang diterangkannya. Dengan kata lain, adanya penambahan kata keterangan pada pernyataan yang sudah jelas maknanya.
Baku | Tidak baku |
maju | maju ke depan |
naik | naik ke atas |
hadirin | para hadirin |
zaman dahulu | zaman dahulu kala |
para juri | para juri-juri |
8. Tidak mengandung arti hiperkorek
Hiperkorek merupakan kesalahan berbahasa akibat koreksi yang berlebihan pada bentuk yang sudah benar sehingga menyebabkan kesalahan. Hiperkorek bersifat menghendaki kerapian dan kesempurnaan yang sangat berlebihan sehingga hasilnya justru menjadi kurang tepat.
Baku | Tidak baku |
Kristal | krystal |
Insaf | insyaf |
Syukur | sukur |
Sah | syah |
Karisma | kharisma |
Syarat-Syarat Kalimat Baku
1. Menggunakan tanda baca yang benar
Penggunaan tanda baca sangat penting untuk membuat kalimat menjadi baku atau tidak baku. Penggunaan tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, tanda petik haruslah sesuai dengan kaidah penulisan kalimat bahasa Indonesia. Berikut sedikit fungsi dari tanda baca.
- Koma (,) : Memisahkan induk kalimat, dan anak kalimat, memisahkan kalimat pengiring dan kalimat langsung, dan memisahkan frasa/kata yang sama dalam pemeriaan, dan sebagainya.
- Titik (.) : Menadakan akhir kalimat.
- Tanda tanya (?) : Digunakan dalam kalimat tanya, dan lain-lain.
2. Menggunakan huruf kapital yang benar
Suatu kalimat akan menjadi tidak baku jika salah menulis huruf kapital, sehingga penggunaan huruf kapital ini harus diperhatikan. Huruf kapital biasanya digunakan untuk nama orang, tempat, huruf pertama pada kalimat, dan lain-lain.
3. Memiliki struktur dan ketatabahasaan yang tepat
Kalimat baku harus memiliki ketepataan pada struktur bahasa dan ketatabahasaannya. Yang dimaksudkan dengan struktur dan ketatabahasaan adalah adanya kejelasan struktur mana bagian subjek, predikat, objek, dan keterangan (S, P, O, K).
Perhatikan contoh berikut ini!
- Ayah membelikan buku adik. (tidak baku)
- Ayah membelikan adik buku. (baku)
4. Padu
Kalimat baku yang termasuk kalimat efektif harus memiliki syarat padu. Kalimat yang padu adalah hubungan antara struktur dan gagasan utamanya harus sesuai atau saling mendukung.
Perhatikan kalimat berikut ini!
Dari data yang didapat menunjukkan bahwa angka kecelakaan sepeda motor sangat tinggi.
Kalimat di atas tidak baku karena tidak memiliki unsur subjek yang jelas. Seharusnya kalimat tersebut ditulis seperti berikut ini!
Kecelakaan sepeda motor sangat tinggi berdasarkan data yang didapat.
5. Hemat
Kalimat baku harus memiliki kehematan kata. Selain itu, kehematan penggunaan kata juga membuat kalimat baku menjadi kalimat efektif.
Perhatikan contoh berikut ini:
Para ibu-ibu melakukan aksi demo di depan pintu Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI.
Kalimat diatas tidaklah baku dan juga efektif karena ada pemborosan kata di dalamnya. Seharusnya kalimat tersebut adalah:
Para ibu melakukan aksi demo di depan pintu Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI.
6. Logis
Syarat kalimat baku yang terakhir adalah logis. Suatu kalimat dikatakan logis apabila kalimat tersebut bisa dicerna atau diterima dengan akal sehat. Jika kita membaca suatu kalimat dan terdengar aneh, maka kalimat tersebut tidaklah baku.
Perhatikan contoh berikut ini!
Bagi yang merokok harap dimatikan.
Kalimat tersebut tidaklah logis karena tidak masuk akal sehat. Sepintas terdengar seperti orang yang merokok yang akan dimatikan. Seharusnya kalimat tersebut menjadi:
Orang yang merokok harus mematikan rokoknya.
Komentar