Pertemuan X Semester I - Kelas Maya Bahasa Indonesia:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Kali ini kita akan mempelajari teks terakhir di semester ganjil ini. Teks kali ini bernama hikayat, seperti apakah teks tersebut? Silakan pelajari jabaran materi berikut. Selamat belajar!
Mengenal Hikayat
lndonesia kaya dengan karya prosa lama, salah satunya hikayat. Hikayat yang berkembang di tengah masyarakat Melayu, terutama mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, dan kekuatan/kesaktian. Salah satu hikayat yang paling terkenal adalah Hikayat Hang Tuah. Hang Tuah adalah seorang laksamana termasyhur pada masa Kerajaan Kesultanan Malaka. Kesultanan mi menguasai jalur pelayaran Selat Malaka.
Hikayat adalah salah satu bentuk prosa lama. Hikayat bentuk prosa, terutama dalam Bahasa Melayu, yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Hikayat umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
karakteristik atau ciri-ciri hikayat adalah sebagai berikut.
1. Anonim
Kebanyakan sastra lama memang tidak dikenal pengarangnya sehingga disebut anonim atau tanpa pengarang Hal ini disebabkan cerita lama pertama kali berkembang bukan dari media tulis, namun dari mulut ke mulut.
2. Istana sentris
Pada awalnya, cerita lama berkembang di dalam istana dan menceritakan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana/kerajaan, sehingga dikenal dengan ciri istana sentris.
3. Bersifat statis
Karena berkembang di dalam masyarakat, cerita ini pun bersifat statis dan tidak berubah meskipun dimakan zaman.
4. Bersifat komunal
Seiring perkembangan zaman, hikayat pun bukan lagi menjadi milik istana, namun sudah menjadi milik umum.
5. Menggunakan bahasa klise (arkais)
Bahasa klise (arkais) yang diulang-ulang juga merupakan ciri hikayat. Oleh karena itu, jangan heran jika banyak terjadi perulangan di dalam hikayat. Pengulangan bisa dalam berbagai bentuk, pengulangan cerita, pengulangan keterangan, pengulangan nama, dan masih banyak lainnya.
6. Bersifat tradisional
Hikayat bersikap tradisional karena berisi tentang berbagai tradisi yang berlaku di sebuah masyarakat atau merupakan gambaran tradisi masyarakat tertentu.
7. Bersifat didaktis (mendidik)
Ciri utama hikayat adalah bersifat mengajarkan atau didaktis, sehingga hikayat berisi cerita yang mengandung banyak nilai-nilai di dalamnya.
8. Menceritakan kisah universal manusia
Hikayat menceritakan kisah universal manusia seperti peperangan antara yang baik dengan yang buruk, dan dimenangkan oleh yang baik
9. Hikayat dimulai dengan kata alkisah, sebermula, arkian, syahdan, hatta, dan tersebutlah. Amanat dalam hikayat umumnya tentang pesan moral dan religius.
Itulah mengapa orang tua dulu menggunakan hikayat untuk menasihati anaknya atau orang yang lebih muda.
10. Kemustahilan maksudnya tidak masuk akal / tidak logis / tidak nalar.
11. Kesaktian berkaitan dengan kemustahilan
Karya sastra diciptakan selain untuk
memberikan hiburan, juga menjadi sarana penanaman nilai-nilai. Keberadaan
nilai-nilai dalam sastra, khususnya hikayat, diharapkan mampu memperkaya
kehidupan pembaca sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan peningkatan
nilai kehidupan manusia itu sendiri.
Nilai-nilai yang terkandung pada hikayat
sekilas nampak mirip dengan amanat, tetapi keduanya memiliki perbedaan.
Bedanya, amanat adalah pesan yang akan disampaikan pengarang lewat karyanya.
Sementara itu, nilai-nilai adalah tuntunan perilaku atau hidup sesorang. Oleh
karena itu, nilai-nilai biasanya nampak pada karakter tokoh cerita tersebut. Nilai-nilai
dalam hikayat terbagi atas:
1. Nilai agama adalah nilai berkaitan
dengan kaidah agama yang berlaku di masyarakat setempat.
2. Nilai moral adalah nilai yang berkenaan
dengan perbuatan baik dan buruk, atau etika sopan santun yang berlaku di
masyarakat.
3. Nilai budaya adalah nilai yang berkaitan
dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Perhatikan contoh kutipan hikayat beserta analisis nilai berikut!
Maka, sahut perdana menteri, hai nakoda kapal! Apa gunanya tuan hamba membawa kain yang baik-baik ini kepada hamba? Karena sebab berdakwa ini tuan hamba mengupah hamba. Tiadalah hamba mau mengambil dia. Bawalah kembali dahulu. Maka, hendak pun kami, maka ia menghukum atas seorang tiada dengan pembawaannya itu jadi menang dia berhukum; melainkan apakala barang siapa yang benar itu kami benarkan dan kami serta dia. Jikalau anak kami sesekalipun apabila salah, kami salahkan juga. Janganlah nakoda sangka lagi yang demikian itu. Maka katanya kepada perempuan itu. ”Tatkala dahulu istri siapa engkau ini." Maka, sahut perempuan itu, ”Ya, Tuan Hakim! Bahwasanya hamba istri nakoda, hamba tiada tahu bersuami tiga atau dijamah orang lain daripada nakoda ini."
Maka kata orang muda itu, ”Hai perempuan yang bid'ah celaka yang menduakan suami! Maka tatkala engkau peristri, bukankah engkau sudah mati? Beberapa kali keluargamu untuk menanamkan tiada aku izinkan. Aku pinta hanyutkan ke laut dan aku bersama-sama. Daripada kasihku akan engkau maka setengah umurku bahagiakan akan dikau. Maka dengan kurnia Allah engkau dikembalikan hidup dalam dunia."
(Kutipan Hikayat Bayan Budiman)
Nilai yang nampak pada kutipan hikayat di atas adalah sebagai berikut.
a. Nilai moral
- kesetiaan seorang istri kepada perintah suami;
- perlakuan adil seorang perdana menteri;
- perempuan yang baik yang tidak pernah berbohong;
- hakim selalu tunduk kepada tradisi kerajaan; dan
- nahkoda kapal yang tak tergoda oleh perempuan nakal.
b. Nilai agama
- menyerahkan segala urusan kepada Tuhan.
Agar lebih mengenal teks hikayat, bacalah teks berjudul Hikayat Hang Tuah berikut!
Hikayat Hang Tuah
Hang Tuah ialah Laksamana yang terkenal dengan kesetiaannya kepada Raja dan merupakan petarung silat yang amat handal dan tiada tolok bandingnya. Bapanya bernama Hang Mahmud manakala ibunya pula ialah Dang Merdu Wati. Bapanya juga pernah menjadi hulubalang istana yang handal suatu ketika dulu, begitulah juga ibunya yang merupakan keturunan dayang di istana.
Hang Tuah dan empat orang kawannya, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu menuntutilmu bersama Adiputra di Gunung Ledang. Selesai menuntut ilmu, mereka berlima kembali ke kota Melaka.
Pada suatu hari, mereka berjaya menyelamatkan Dato' Bendahara (iaitu Perdana Menteri) daripada seorang lelaki yang sedang mengamok. Dato' Bendahara kagum dengan ketangkasan mereka dan menjemput mereka semua ke rumahnya dan seterusnya mengambil mereka untuk bertugas di istana.
Sejak itu Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya amat disayangi oleh Sultan hinggalah Hang Tuah mendapat gelar Laksamana. Semasa mengiringi Sultan Melaka ke Majapahit di tanah Jawa, Hang Tuah telah berjaya membunuh seorang pendekar Jawa bernama Taming Sari.
Dalam pertarungan itu Taming Sari, seorang pendekar yang kebal yang tidak dapat dilukakan. Tetapi Hang Tuah mengetahui bahawa kekebalan Taming Sari terletak pada kerisnya. Oleh itu Hang Tuah berjaya merampas keris berkenaan dan membunuh Taming Sari. Keris itu kemudiannya dianugerahkan oleh Betara Majapahit kepada Hang Tuah. Pemilik keris ini akan turut menjadi kebal seperti pendekar Jawa Taming Sari.
Hang Tuah telah diutuskan ke Pahang bagi mendapatkan Tun Teja untuk dijadikan permaisuri Sultan Melaka. Ketika Hang Tuah ke Pahang, Melor turun dari Gunung Ledang mencari Hang Tuah. Melor telah ditawan oleh Tun Ali atas hasutan Patih Karma Vijaya bagi dijadikan gundik Sultan. Atas muslihat Tun Ali juga, Hang Tuah yang kembali dari Pahang akhirnya dapat berjumpa Melor, tetapi Sultan juga turut menyaksikan perbuatan Hang Tuah itu.
Melor dan Hang Tuah dihukum bunuh kerana difitnah berzina dengan Melor yang telah menjadi gundik Sultan. Namun, hukuman mati tidak dilaksanakan oleh Bendahara sebaliknya Hang Tuah disembunyikannya di . sebuah hutan di Hulu Melaka.
Hang Jebat telah dilantik oleh Sultan menjadi Laksamana menggantikan Hang Tuah dan keris Taming Sari telah dianugerahkan kepada Hang Jebat. Hang Jebat sebagai sahabat karib Hang Tuah, menyangka bahawa Hang Tuah telah teraniaya dan telah menjalani hukuman mati.
Hang Jebat bertindak derhaka kepada Sultan dan mengambil alih istana. Tidak ada pendekar atau panglima di Melaka yang dapat menentang Hang Jebat yang telah menjadi kebal kerana adanya keris Taming Sari di tangannya.
contoh
Sultan Mahmud terpaksa melarikan diri dan berlindung di rumah Bendahara. Pada masa itu baginda baru menyesal kerana membunuh Hang Tuah yang tidak bersalah. Inilah masanya Bendahara memberitahu yang Hang Tuah masih hidup.
Hang Tuah kemudiannya telah dipanggil pulang dan dititahkan membunuh Hang Jebat yang berkhianat. Setelah tujuh hari bertarung, Hang Tuah akhirnya berjaya merampas semula Taming Sarinya daripada Hang Jebat dan membunuhnya.
Latihan Soal
Silakan kerjakan soal pilihan ganda berikut, sekaligus sebagai bukti kehadiran Anda hari ini.
Setelah klik kirim, untuk melihat skor geser/scroll kembali ke atas.
Komentar