Langsung ke konten utama

ANEKDOT 3 - Kebahasaan dan Metode Penulisan Anekdot

   Pertemuan IX Semester I - Kelas Maya Bahasa Indonesia:

  • KELAS X 

[Materi Kebahasaan]

Mengenal Kata Kerja dan Frasa Kerja

Kata kerja adalah kata yang menunjukkan suatu aktivitas atau perbuatan, misalnya berjalan, makan, berolahraga, menulis, dan menyapu. Kata kerja dibedakan atas kata kerja transitif dan kata kerja intransitif. 
  • Kata kerja transitif adalah kata kerja yang membutuhkan objek (sasaran perbuatan). 
  • Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan objek. 
Kata kerja intransitif tidak membutuhkan objek karena perbuatan itu dilakukan bukan kepada orang lain atau tidak kepada benda lain, melainkan kepada si pembuat itu sendiri.



Frasa kerja adalah frasa yang unsur intinya berupa verba/kata kerja, sedang unsur lainnya merupakan keterangan atau atribut bagi verba tersebut. Perhatikan contoh berikut.


Konjungsi (Kata Sambung) Konjungsi adalah kata untuk menghubungkan kata-kata, ungkapan-ungkapan, atau kalimat-kalimat. Konjungsi tidak dihubungkan dengan objek. Konjungsi tidak menerangkan kata. Konjungsi hanya menghubungkan kata-kata atau kalimat-kalimat. Konjungsi terdiri atas 4 bagian yaitu sebagai berikut.

  • Konjungsi koordinatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (termasuk kalimat) yang sama pentingnya atau setara. Kalimat yang dibentuk disebut kalimat majemuk setara. 
Contoh: dan, serta, atau, tetapi, melainkan, padahal, sedangkan. 
  • Konjungsi korelatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (tidak termasuk kalimat) yang memiliki status sintaksis yang sama dan membentuk frasa atau kalimat. Kalimat yang dibentuk agak rumit dan bervariasi, kadang setara, bertingkat, atau bisa juga kalimat dengan dua subjek dan satu predikat. 
Contoh: 
baik ... maupun ...,
tidak hanya ..., tetapi juga ...,
bukan hanya …, melainkan juga ...,
demikian ... sehingga ...,
sedemikian rupa ... sehingga ...,
apa(kah) ... atau ...,
entah ... entah ...,
jangankan ..., .... pun. 
  • Konjungsi subordinatif; menghubungkan dua atau lebih klausa yang tidak memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi membentuk anak kalimat yang jika digabungkan dengan induk kalimat akan membentuk kalimat majemuk bertingkat. 

Konjungsi subordinatif waktu; sejak

Konjungsi subordinatif syarat; jika

Konjungsi subordinatif pengadaian; andaikan

Konjungsi subordinatif tujuan; agar 

Konjungsi subordinatif konsesif; biarpun

Konjungsi subordinatif pembandingan; ibarat

Konjungsi subordinatif sebab; karena 

Konjungsi subordinatif hasil; sehingga

Konjungsi subordinatif alat; dengan 

Konjungsi subordinatif cara; tanpa

Konjungsi subordinatif komplementasi; bahwa

Konjungsi subordinatif atributif; yang 

Konjungsi subordinatif perbandingan; sama dengan

  • Konjungsi antarkalimat; yaitu merangkaikan dua kalimat, tetapi masing-masing merupakan kalimat sendiri.

[Eksplorasi]

Metode Penulisan Anekdot

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menulis teks anekdot.

  • Pengantar cerita sengaja ditulis pendek dan bersifat parafrasa yang menyimpulkan keseluruhan isi cerita. Pengantar cerita sebuah anekdot hampir mirip dengan berita karena menjawab pertanyaan apa yang terjadi, siapa yang terlibat dalam peristiwa itu, kapan kejadiannya, serta di mana tempat kejadiannya. 

  • Alur cerita/plot terkesan langsung ke pokok persoalan yang ingin disampaikan. Hal ini tampak jelas dengan penyajian dialog yang membuka konflik cerita dan berlanjut menuju klimaks cerita, terus menuju resolusi/pemecahan masalah yang dipaparkan yang menutup keseluruhan kisah. Berkaitan dengan ini, resolusi langsung memberikan pesan tersirat atau pelajaran moral kepada pembaca.

  • Karakterisasi/penggambaran tokoh cerita. Karakterisasi yang digunakan dalam sebuah anekdot terkesan unik karena jelas sekali terlihat tokoh cerita diilustrasikan memiliki perilaku tersendiri. Tokoh cerita dilukiskan sebagai pribadi yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang ganjil dan kurang lazim dalam masyarakatnya. Hal ini tampak dalam dialog langsung yang disajikan dalam cerita. 

Tingkah laku Nasrudin hebat, bukan? Ketika orang lain mau mengajarinya, orang tersebut justru diarahkan untuk menuruti kemauannya karena dia tak punya cukup waktu untuk mendengar nasihat yang bertele-tele. Nasrudin mau belajar dari pengalaman pribadi yang langsung dilakukannya melalui praktik, bukan melalui instruksi yang teoritis sebagaimana terkandung dalam sebuah nasihat. Inilah konsepsi terbaru versi Nasrudin Hoja mengenai pengertian 'belajar yang efektif'.

  • Model komunikasi dialogis. Anekdot memanfaatkan dialog-dialog singkat dan langsung, tetapi tak melupakan syarat dialog yang menarik yaitu sifat mimesis (peniruan kembali kenyataan). Dalam dialog-dialog anekdot di atas, kita bisa melihat realitas sosial budaya masyarakat Tim
    ur-Tengah yang saling berbagi pengetahuan. Ini berhubungan dengan kecenderungan mengikuti ajaran agama yang mayoritas dianut penduduknya saat itu yaitu “Ajarkanlah walaupun hanya satu ayat." 


Model Penulisan Anekdot

Model Dialog


Model Narasi

TUGAS HARI INI

Setelah beberapa pertemuan mempelajari materi teks anekdot, saya harap Anda telah memiliki gambaran mengenai teks anekdot. 
Tugas hari ini, silakan membuat sebuah teks anekdot singkat sesuai pengalaman Anda atau boleh mencari ide/inspirasi di Internet, namun dilarang mengopi teks utuh dari Internet.

Komentar