Langsung ke konten utama

ANEKDOT 1 - Mengenal Teks Anekdot

 Pertemuan VII Semester I - Kelas Maya Bahasa Indonesia:
  • KELAS X 

Selamat datang kembali di pembelajaran bahasa Indonesia!


Hari ini kita akan belajar teks selanjutnya, yaitu teks Anekdot.

Teks Anekdot

Kata anekdot berasal dari kata bahasa Yunani anekdota, yang berarti 'memoar yang tak diterbitkan' atau 'kisah rahasia'. Kisah itu merupakan koleksi kejadian-kejadian singkat dari kehidupan pribadi dari istana Bizantin. Lama-kelamaan, makna anekdot digunakan untuk setiap kisah singkat yang digunakan untuk menekankan atau mengilustrasikan ide si penulis. Pada perkembangannya, anekdot diartikan sebagai sebuah cerita singkat mengenai suatu kejadian yang tidak biasa, baik fakta maupun imajinasi. Tujuannya adalah menghibur pembaca. Perhatikan contoh-contoh teks anekdot berikut.

Teks Anekdot I

KUHP 

Seorang dosen fakultas hukum sedang memberi kuliah hukum pidana. Saat tiba sesi tanya-jawab, si Ando bertanya kepada Pak Dosen. 
"Apa kepanjangan dari KUHP, Pak?” 
Pak Dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkan pertanyaan tersebut kepada si Arman. 
”Saudara Arman, coba saya dibantu untuk menjawab Pertanyaan Saudara Ando,”pinta Pak Dosen. 
Dengan tegas si Arman menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak!" tegasnya. Mahasiswa lain serempak tertawa, sedang Pak Dosen geleng-geleng kepala, seraya menambahkan pertanyaan kepada si Arman. 
”Saudara Arman, dari mana Saudara tahu jawaban itu?” 
Dasar si Arman, pertanyaan Pak Dosen dijawabnya pula dengan tegas, ”Peribahasa Inggris mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pak!” 

Teks Anekdot II

Tips Wawancara Calon Karyawan

Anda sedang menyeleksi calon karyawan baru? Ada segudang pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengetahui cara berpikir dan wawasan mereka. Salah satu contoh pertanyaan yang dapat diajukan untuk tes bagi calon karyawan sebagai berikut. 
Seorang manajer HRD sedang menyaring pelamar untuk satu lowongan di kantornya. Setelah membaca seluruh berkas lamaran yang masuk, dia menemukan empat orang calon yang cocok. Dia memutuskan memanggil keempat orang itu dan menanyakan satu pertanyaan saja. Jawaban mereka akan menjadi penentu apakah akan diterima atau tidak. 
Harinya pun tiba dan keempat orang itu sudah duduk rapi di ruangan wawancara. Si Manajer mengajukan satu pertanyaan. 
”Setahu Anda, apa yang bergerak paling cepat?" 
Kandidat I menjawab, ”Pikiran. Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang-ancang. Tiba-tiba saja dia sudah ada. Pikiran adalah yang bergerak paling cepat yang saya tahu.” 
”Jawaban yang sangat bagus,” sahut Si Manajer. ”Kalau menurut Anda?" tanyanya pada Kandidat II. 
”Hm.... Kejapan mata! Datangnya tidak bisa diperkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap. Kejapan mata adalah yang bergerak paling cepat kalau menurut saya." 
”Bagus sekali! Memang ada ungkapan 'sekejap mata' untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi.” Si Manajer berpaling ke Kandidat III, yang kelihatan berpikir keras. 
”Nyala lampu adalah yang tercepat yang saya ketahui,” jawabnya. ”Saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang di taman depan langsung saat itu juga menyala.” 
Si Manajer terkesan dengan jawaban Kandidat III. 
”Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya," pujinya. Dilirik oleh sang Manajer, Kandidat IV menjawab, 
”Sudah jelas bahwa yang paling cepat itu adalah diare.” 
”Apa?" seru si Manajer yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu. 
”Oh, saya bisa menjelaskannya,” kata si kandidat. . “Dua hari lalu kan perut saya mendadak mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi, sebelum saya sempat berpikir, mengejapkan mata, atau menyalakan lampu, saya sudah berak di celana." 
Tentu saja kandidat terakhir yang diterima. 
Sumber: http://www.fokusoha.com/ 

Setelah membaca contoh-contoh teks anekdot tersebut apakah Anda sudah memiliki gambaran mengenai teks yang kita pelajari ini? Jika Anda masih ingin mengetahui seputar anekdot dan contoh lainnya bisa ada temukan di internet.
 

Menganalisis Teks Anekdot

Anekdot bertujuan menyajikan nuansa humor segar. Selain itu, anekdot sering berupaya mengajak pembaca untuk merenungi apa hikmah yang terkandung di dalam sebuah peristiwa lucu yang terjadi secara tak sengaja. Ada peran fungsional sastra sebagai media pengajaran dan hiburan yang tampak dalam anekdot.

Teks anekdot memiliki beberapa ciri umum diantaranya sebegai berikut,

  • Menggunakan keterangan lampau seperti kemarin, tahun lalu, ketika itu.
  • Menggunakan kata sambung yang menyatakan waktu seperti ketika, sesudah, selama. 

Sedangkan dari struktur teks, anekdot memiliki struktur sebagai berikut,

  1. Abstrak, yaitu bagian yang memperkenalkan kejadian ganjil atau tidak biasa.
  2. Orientasi, yaitu bagian yang menyampaikan siapa, kapan, dan di mana kejadian ganjil atau kejadian tidak biasa tersebut terjadi.
  3. Krisis, yaitu bagian yang menceritakan kejadian ganjil atau kejadian tidak biasa tersebut terjadi. Penulis menceritakan kejadian tersebut dengan detail.
  4. Reaksi, yaitu bagian yang menceritakan bagaimana subjek cerita (pelaku) memecahkan masalahnya dan akhir dari kejadian ganjil atau tidak biasa tersebut.

Berikut contoh teks anekdot beserta analisis strukturnya.

Di tengah senja, seorang pejabat korup memancing di sungai. Saking asyiknya memancing, si pejabat tidak sadar air sungainya meluap. Banjir!

Si pejabat hanyut dan tidak sadarkan diri. Begitu bangun, dia sudah berada di rumah warga. Betapa beruntungnya dia karena ada orang yang menyelamatkannya. Merasa utang budi, si pejabat ingin berterima kasih kepada warga yang telah menolongnya.

“Kamu tahu tidak saya siapa?” tanya pejabat ke laki-laki di sana.

“Tidak. Tetapi, wajah Bapak sepertinya tidak asing.” Si laki-laki berusaha mengingat. “Memangnya Bapak siapa?”

“Aku ini pejabat negara.”

Si laki-laki akhirnya ingat. Orang ini pernah ia tonton di salah satu acara televisi.

“Karena sudah menolongku, kamu boleh minta apa saja. Katakan saja keinginanmu.”

“Benar, pak pejabat?”

Si pejabat mengangguk. “Ya, ya, ya. Pasti akan kupenuhi.”

“Kalau begitu, tolong Bapak jangan bilang ke siapapun bahwa saya yang menolong Bapak!”

 
Berikut analisis struktur teks tersebut.
(silakan klik dan diperbesar jika teks tidak terbaca)

Sepintas, kita mungkin beranggapan anekdot sama dengan lelucon. Akan tetapi, anekdot berbeda dengan lelucon. Keduanya memang bertujuan sama, yaitu membangkitkan tawa guna menghibur pembaca atau pendengar. Namun, tujuan anekdot tidak hanya membangkitkan tawa, tetapi juga mengungkapkan suatu kebenaran.

 

Komentar