· Kelas X
Assalamu'alaikum wr. wb.
Pernahkah Anda membuat sajak atau puisi ketika di SMP dulu? Nah, kali ini akan kita ingat kembali materi tersebut.
Mengidentifikasi Komponen Penting dalam Puisi
Puisi disebut juga sajak. Puisi merupakan salah satu ragam sastra yang memiliki beberapa aturan yang kita kenal, seperti bahasanya yang terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. pengertian secara umunya, puisi merupakan sebuah karya sastra hasil ungkapan pemikiran dan perasaan manusia yang bahasanya terikat. Puisi lebih mengutamakan bunyi, bentuk, dan juga makna yang hendak disampaikan pengarangnya kepada pembaca.
Puisi disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penyairnya. Pesan yang ingin disampaikan oleh penyair dirangkai dengan kata-kata yang indah, yang berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahkan juga berbeda dengan bahasa karya sastra lain.
1. Ciri-Ciri Umum Puisi
- Puisi disusun dalam bentuk larik/baris.
- Penggunaan majas sangat dominan dalam bahasa puisi.
- Bahasa puisi menggunakan bahasa kiasan, tetapi ada juga yang menggunakan bahasa denotasi.
- Penggunaan rima (pengulangan bunyi berselang pada sajak) agar terasa keindahannya. Rima akan membentuk persajakan, misalnya a-b-a-b, atau a-a-b-b dan sebagainya.
- Pemilihan kata sangat penting dalam puisi.
- Makna puisi merupakan jiwa dari keseluruhan aspek dalam puisi.
sebagai suatu karya sastra, puisi tersusun atas struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin puisi adalah struktur yang membangun puisi secara implisit atau tidak terlihat. Struktur batin disebut juga hakikat puisi. Struktur batin puisi di antaranya adalah suasana, tema, dan makna. Adapun struktur fisik adalah struktur yang membangun puisi secara eksplisit; yaitu terlihat melalui susunan kata-katanya.
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
Salah satu struktur batin puisi yaitu suasana. Suasana yang tergambar dari puisi tersebut adalah suasana khusyuk atau khidmat, seperti dalam berdoa atau bersembahyang. Puisi tersebut mengungkapkan keluh kesah, penyesalan, atau juga pertobatan seorang hamba atas segala kekhilafannya. Seseorang yang dalam suatu keadaan rapuh kembali kepada Yang Mahakuasa untuk berlabuh, menjalin hubungan kembali dengan Tuhan untuk menemukan ketenteraman hidup.
2. Menemukan Tema Puisi yang Terdapat dalam Sebuah Antologi Puisi
Tema adalah gagasan pokok atau ide yang menjadi dasar suatu karya. Setiap puisi mempunyai satu topik utama yang diangkat. Dalam menentukan tema sebuah puisi, seorang apresiator harus menghubungkan antara puisi dengan penyairnya karena puisi bersifat khusus (subjektif), sedangkan isi puisi bersifat objektif bagi semua penafsir. Interpretasi atau pemaknaan puisi tersebut mutlak milik pembaca, yang tentunya tetap harus memperhatikan kaidah pemaknaan sebuah puisi.
Perhatikan puisi berikut.
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letihnya kucari
Sapardi Djoko Damono, 1991
Puisi tersebut bertema keteguhan hati dalam niat untuk berjuang atau berusaha menggapai cita-cita. Kata-kata yang menyiratkan tema tersebut adalah “pada suatu hari nanti” yang diulang-ulang pada larik awal setiap bait hingga bait terakhir. Hal itu bertujuan untuk membangun semangat, pantang menyerah, dan menghilangkan rasa malas. Pesan yang disiratkan berdasarkan tema tersebut adalah bahwa manusia hidup sekali, artinya ada batasan-batasan dalam hidup. Manusia hendaknya memanfaatkan hidup ini menjadi sesuatu yang berarti, memberi manfaat bagi sekitarnya. Kata “pada suatu hari nanti” secara harfiah dapat diartikan sebagai waktu hidup; batas hidup diartikan sebagai “bila tiba saatnya" atau juga dapat diartikan sebagai “entah kapan” atau yang menyiratkan arti kesempatan yang diberikan kepada manusia.
3. Menentukan Makna Puisi yang Terdapat dalam Sebuah Antologi Puisi
Berikut langkah-langkah dalam menentukan makna puisi.
- Membaca kembali puisi yang akan dianalisis maknanya
- Mengidentifikasikan makna atau pesan yang ada dalam puisi tersebut dengan memperhatikan setiap kata yang ada pada puisi tersebut.
- Menuliskan setiap makna yang ada pada puisi tersebut sesuai dengan isi puisi tersebut.
Perhatikan puisi berikut.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono, 1989
Secara harfiah, hujan tidak akan turun pada bulan Juni karena biasanya pada bulan tersebut terjadi musim kemarau. Kemarau dapat diartikan sebagai ujian atau masalah dalam hidup. Pada puisi tersebut, penyair ingin menyampaikan amanat bahwa hanya dengan kebijaksanaan. manusia dapat menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Kebijaksanaan dapat terwujud jika kita dalam keadaan kepala dingin, bersabar dalam proses usaha mencari solusi masalah.
Perhatikan analisis makna berikut.
- Ungkapan “dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon itu" diartikan sebagai sikap prihatin, menahan, masih dalam proses berusaha untuk mewujudkan cita-cita.
- Ungkapan “dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu” diartikan sebagai kemantapan hati dalam berniat melakukan usaha untuk mewujudkan cita-cita.
- Ungkapan “dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu diartikan sebagai keikhlasan dalam berusaha sembari memberi bantuan atau manfaat kepada sesama.
4. Membacakan Puisi dengan Memperhatikan Vokal, Ekspresi, dan Intonasi yang Baik
Mendemontrasikan puisi adalah kegiatan menampilkan puisi dengan cara membacanya di atas panggung. Penonton biasanya akan terhanyut saat menyaksikan musikalisasi atau pembacaan puisi yang dilakukan di hadapannya. Saat penonton ikut terbawa isi puisi yang dibacakan, itulah yang disebut suasana dalam puisi. Mendemonstrasikan atau membacakan puisi dilakukan dengan memperhatikan vokal, ekspresi, dan intonasi yang baik.- Vokal
- Penampilan
1. Gerak
Gerakan seseorang dalam membaca puisi harus mendukung isi puisi yang dibaca. Pengekspresian melalui gerak anggota tubuh tidak boleh klise dengan isi puisi.
2. Komunikasi
Pada saat puisi dibaca, pembaca harus dapat memberikan sentuhan atau bahkan menggetarkan perasaan/jiwa penonton (komunikatif).
3. Ekspresi
Ekspresi merupakan tampakan hasil pemahaman, penghayatan, dan segala aspek di atas dengan ekspresi yang pas dan wajar.
4. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap isi puisi yang dibaca.
- Membaca dalam hati puisi tersebut berulang-ulang.
- Memberikan ciri pada bagian-bagian tertentu, misalnya tanda jeda. Jeda pendek dengan tanda (/) dan jeda panjang dengan tanda (//). Penjedaan pendek diberikan pada frasa, sedangkan penjedaan panjang diberikan pada akhir klausa atau kalimat.
- Memahami suasana, tema, dan makna puisinya.
- Menghayati suasana, tema, dan makna puisi untuk mengekspresikan puisi yang kita baca.
Komentar